Kementerian Luar Negeri menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Teheran untuk "memfasilitasi dialog", tapi ide ini dipertanyakan sejumlah kalangan dan disebut "sangat tidak realistis".
Pernyataan ini dikeluarkan di momen AS-Israel memutuskan serangan ke Iran pada Sabtu (28/01).
Beberapa analis berpendapat, konflik AS-Israel dengan Iran akan berlangsung lama.
Di tengah ketidakpastian ini, Iran telah menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis di dunia bagi perdagangan energi global.
Penutupan ini, secara tidak langsung berdampak pada ekonomi dunia termasuk Indonesia sebagai importir minyak, menurut peneliti.
Di sisi lain, warga Indonesia yang tercatat berada di Iran sebanyak 329 jiwa, dan KBRI Teheran menyatakan jaringan WNI di sana "tidak merasakan adanya ancaman langsung". Namun KBRI setempat tetap menyerukan kewaspadaan.
Peringatan: BBC tidak bertanggung jawab atas konten situs eksternal
Lompati X pesan
Kementerian Luar Negeri pada saat-saat serangan AS-Israel ke Iran, mengeluarkan pengumuman, "Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif".
"Dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," tulis akun resmi Kemlu di X, pada Sabtu (28/02).
Lewatkan Paling banyak dibaca dan terus membaca
Paling banyak dibaca




Akhir dari Paling banyak dibaca
Tapi gagasan ini dipertanyakan mantan diplomat Indonesia, Dino Patti Djalal, bahkan disebut "sangat tidak realistis".
Tidak mungkin Presiden Prabowo memediasi konflik AS-Israel dengan Iran yang semakin keras, karena AS jarang sekali tunduk oleh pihak ketiga, kata Dino.

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images
Keterangan gambar, Potongan layar dari video yang dirilis di akun Truth Social milik Presiden AS Donald Trump saat membuat pernyataan mengenai operasi tempur di Iran pada 28 Februari 2026 di Pal Beach, Florida, Amerika Serikat. Menurut Dino Patti Djalal, AS merupakan negara yang jarang sekali tunduk.
"Ego Amerika sebagai negara superpower terlalu tinggi untuk menerima itu," kata pria yang pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk AS. Pemerintah Iran belakangan ini tidak begitu dekat dengan pemerintah Indonesia, tambahnya.
Hal lain yang membuat "ide menakjubkan" ini mustahil terjadi adalah membujuk pihak AS seperti Trump atau Menlu AS Marco Rubio melakukan kunjungan dengan petinggi Iran.
Belum lagi kemungkinan Presiden Prabowo harus bertemu dengan PM Israel, Benjamin Netanyahu dalam upaya memediasi.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Keterangan gambar, Kepulan asap membubung setelah ledakan yang dilaporkan terjadi di Teheran pada 1 Maret 2026.
"Secara politik diplomatik dan juga logistik tidak mungkin terjadi. Ini akan menjadi bunuh diri politik bagi Presiden Prabowo di dalam negeri," jelas Dino.
Indonesia, kata dia, harus tegas mengambil posisi dalam konflik ini. Berani mengatakan kesalahan AS-Israel karena menyerang Iran.
"Serangan Israel-AS ke Iran itu betentangan dengan segala prinsip yang disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam pidato bersejarah di sidang umum PBB tahun lalu," katanya.
Peneliti dari PARA Syndicate, Virdika Rizky Utama menyebut gagasan itu sebagai "cari panggung internasional".
"Ini bukan lagi soal strategi diplomasi Indonesia yang konsisten, tapi lebih ke upaya memoles citra di tengah krisis," katanya. "Seharusnya kalau memang berani, datangi Amerika dan Israel lalu minta mereka berhenti menyerang [Iran]".
Selain itu, menurut Virdika saat ini politik bebas aktif Indonesia "sudah mati" setelah bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace) bentukan Trump.
"Jadi, kalau sekarang mau bergaya jadi mediator di Iran, dunia internasional pasti tertawa. Bagaimana mungkin negara yang sudah beraliansi dengan salah satu pihak yang terlibat konflik bisa dipercaya jadi penengah yang jujur," katanya.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Keterangan gambar, Warga Syiah di Irak meneriakkan slogan-slogan sambil membawa potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan mengibarkan bendera Iran selama protes menentang serangan AS dan Israel di Baghdad, Sabtu (28/02).
Sementara itu, pengamat pertahanan dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma menilai gagasan presiden jadi juru runding sebagai "gimmick".
Made menulis pendapatnya dalam unggahan di Facebook pribadinya dan memuat banyak pertanyaan, termasuk: "Indonesia menawarkan diri sebagai mediator. Serius?"
Saat dihubungi, kata dia, sejauh ini Indonesia tak cukup memiliki pengaruh dari segi kekuatan politik, netralitas, hubungan baik dengan negara-negara berkonflik, pengaruh ekonomi-militer, dan saluran komunikasi yang aktif.
Lewatkan content dan terus membaca
Akhir dari content
Apalagi dalam konteks perang AS-Israel dengan Iran, bukan lagi urusan mendongkel satu-dua pemimpin negara, tapi meruntuhkan rezim.
"Amerika dan Israel ini sudah perang terbuka dan terus membunuh pemimpin satu negara. Apalagi yang mau dinegosiasikan? Nggak ada jalan bagi Iran untuk mundur-mundur, kecuali berperang," kata Made.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akhir dari Whatsapp
Sejak serangan AS-Israel dimulai, Iran memutuskan menutup Selat Homuz. Sampai Minggu (01/03), AS-Israel meluncurkan serangan terbaru setelah pimpinan Iran, Ali Khemeni wafat.
Menurut Dino Patti Djalal, konflik yang melibatkan tiga negara secara langsung ini akan menjadi "berkepanjangan".
"Karena tujuan dari serangan militer ini, kali ini bukan hanya untuk menghentikan kapasitas nuklir Iran, tapi untuk menumbangkan pemerintah di Teheran," katanya.
AS-Israel akan mengerahkan segala daya dari militer hingga intelijen untuk menumbangkan Iran. Sebaliknya, Iran tak akan tinggal diam, dan melakukan perlawanan.
Sumber